iklan03

Share :

Masker Lebih Ampuh Cegah Corona Dibanding Vaksin, Benarkah?

September 30, 2020
masker

Jakarta – Sampai saat ini, vaksin COVID-19 di seluruh dunia masih dalam tahap pengujian. Sembari menunggu ketersediaan vaksin, seluruh negara-negara di dunia harus mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penyebaran COVID-19. Masker adalah salah satu alat pelindung paling kuat yang direkomendasikan di seluruh dunia.

Pemakaian masker yang dikombinasikan dengan tindakan pencegahan lainnya, seperti sering mencuci tangan dan menjaga jarak, terbukti efektif untuk memperlambat penyebaran virus. CDC merekomendasikan masker kain untuk dipakai oleh masyarakat umum. Sedangkan, masker bedah dan masker N95 hanya dibutuhkan oleh penyedia layanan kesehatan.

Maker Dinilai Lebih Ampuh Cegah Corona daripada Vaksin

Baru-baru ini, Robert Redfield, direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, mengatakan masker wajah mampu melindungi diri dari infeksi COVID-19 jauh lebih baik daripada vaksin. “Kami memiliki bukti ilmiah yang jelas bahwa masker berhasil mencegah infeksi virus dan telah menjadi alat pertahanan terbaik. Saya bisa mengatakan bahwa masker wajah ini lebih terjamin untuk melindungi saya dari Covid-19 daripada vaksin,” kata Redfield.

Sementara vaksin virus corona kemungkinan baru akan tersedia awal tahun depan. Namun, sampai sekarang hampir tidak ada yang tahu seberapa efektif vaksin COVID-19 bisa bekerja. Para ilmuwan dan pengembang vaksin mengatakan bahwa vaksin awal mungkin belum bekerja efektif. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyatakan bahwa mereka akan menyetujui vaksin COVID-19 jika terbukti aman dan 50 persen bekerja efektif. Namun, Redfield mendesak orang-orang untuk terus memakai masker wajah bahkan setelah vaksin sudah tersedia.

Pesan WHO Mengenai Vaksin COVID-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpesan bahwa vaksin COVID-19 tetap harus menjadi barang publik global dan bisa diakses semua orang secara merata. WHO bahkan telah merilis “kerangka nilai” yang dimaksudkan untuk memandu pemerintah dan pembuat kebijakan tentang alokasi dan prioritas vaksin COVID-19, sehingga harus tersedia untuk orang-orang yang paling membutuhkannya terlepas dari negara atau wilayah tempat mereka tinggal.

Kerangka nilai ini dimaksudkan untuk menawarkan panduan secara global tentang alokasi vaksin COVID-19 antar negara dan untuk menawarkan panduan secara nasional tentang prioritas kelompok di dalam negara, terutama ketika ketersediaan vaksin ini masih sangat terbatas. 

Direktur jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta negara-negara untuk tidak menikmati apa yang dikenal sebagai “nasionalisme vaksin” yang merujuk pada kecenderungan negara-negara untuk menimbun vaksin ketika tersedia. Pasalnya, nasionalisme vaksin ini justru bisa memperlama pandemi dan bukan memperpendeknya.

 

Sumber: https://www.halodoc.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *