iklan03

Share :

Ada Risiko Tinggal di Rumah Tingkat, Apa dan Bagaimana Solusinya?

September 30, 2020
rumah tingkat

Hidup di rumah tingkat bukan sekadar jawaban atas minimnya lahan.

Ada sebagian orang yang sengaja memilih untuk membangun rumahnya secara bertingkat, walaupun lahan rumahnya masih memungkinkan dibangun rumah satu lantai.

Pertimbangannya antara lain kenyamanan, privasi, dan desain yang menawarkan pertambahan ruang dan potensi memanfaatkan keindahan alam.

Namun, ada beberapa konsekuensi dan risiko yang harus diterima pemilik rumah dengan meningkat rumah.

Berikut beberapa konsekuensi dan solusinya.

1. Tangga jadi Area Rawan

Punya rumah bertingkat pasti mengaplikasikan tangga sebagai akses naik-turun.

Tangga jadi area yang rawan kecelakaan untuk anak dan cukup riskan untuk manula.

Kecemasan atas keberadaan tangga terhadap keselamatan anak kecil di rumah adalah rasa keingintahuan anak kecil yang begitu besar.

Bisa-bisa dia akan menyukai tangga sebagai tempat eksplorasi keingintahuannya.

Mereka sering main di sekitar tangga.

Kecemasan berlebih saat anak mulai belajar jalan bisa saja dia ingin mencoba meniki dan menuruni tangga tanpa tahu bahayanya.

Beberapa solusi bisa kamu lakukan.

Kamu bisa membuat pintu di ujung tangga.

Kunci pintu ini ditaruh di sisi luar supaya tidak bisa dibuka anak.

Atau menaruh lemari buku di sisi tangga untuk menutupi railing void.

Barang-barang yang bisa digunakan sebagai pijakan juga dijauhkan dari tangga.

Tak hanya anak kecil, keberadaan tangga juga tidak cikup nyaman digunakan manula atau orang yang sudah cukup berumur.

Keterbatasan fisik sering membuat mereka tidak mampu untuk menaiki tangga lagi.

Kalaupun mereka mau, itupun akan membahayakan.

Jika ingin tetap rumah bertingkat dan aman bagi manula, bisa menggantinya dengan ramp.

Tanpa pijakan dan kecuraman, ramp lebih nyaman digunakan.

Desainnya yang umumnya dibuat landai lebih nyaman bagi manula.

Bahkan, ramp pun sangat membantu bagi anggota kelaurag yang mengalamai disabilitas.

Namun, ramp biasanya membutuhkan lahan yang cukup luas untuk mengakomodasi desainnya yang landai (tidak curam).

Jadi, harang diaplikasikan di rumah dengan lahan terbatas (rumah mungil).

2. Ketersediaan Bahan Makanan

Kesulitan mengambil beberapa keperluan makan atau aktivitas lain, adalah kendala lain yang dihadapi jika tinggal di rumah tingkat.

Untuk menghemat tenaga naik turun tangga, kamu bisa  meletakkan dispenser dan kulkas kecil di lantai atas, sehingga walaupun dapur berada di lantai bawah, di lantai atas tersedia makanan untuk keluarga.

3. Repot Perawatannya

Punya rumah bertingkat akan sedikit repot dalam perawatannya.

Dengan luas yang berlipat, tentu membersihkannya juga butuh usaha lebih.

Apalagi perawatan bangunan di lantai atas.

Kalau bagian ini tidak dirawat, tampilan bangunan jadi jelek dan berdebu.

Membersihkan sarang laba-laba di pojokan, mengganti lampu di tangga, jadi kesulitan tersendiri.

Namun, hal ini bisa diantisipasi dari awal dengan menyediakan fasilitas-fasilitas perawatan tertentu seperti tangga atau pembersih (sapu) yang ukurannya disesuaikan.

4. Tak Terhubung dengan Mudah

Kesulitan lain tinggal di rumah bertingkat, jika kamu di lantai bawah mau memanggil orang yang berada di lantai atas, mungkin harus sedikit berteriak.

Void, salah satu elemen yang biasa dijadikan sebagai solusi.

Kehadiran void dapat menjamin tetap terjalinnya hubungan (integrasi) antar penghuni rumah, baik yang berada di atas maupun di lantai bawah.

 

Sumber: https://idea.grid.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *